Minggu, 14 Juli 2013

9 Rahasia Teknik Presentasi Steve Jobs

steve-jobs-showing-passion-in-presentationSteve Jobs adalah salah  seorang presenter terbaik yang pernah ada. Penampilannya dalam sebuah presentasi selalu dinanti banyak orang. Belum pernah ada presentasi korporat yang tampil demikian memukau seperti yang disampaikan Steve Jobs. Lewat teknik presentasi kelas dunia yang khas, dia berhasil menunjukkan bagaimana mengemas presentasi secara menarik layaknya sebuah pertunjukan atraktif.
Dalam pembukaan buku Presentasi Memukau saya menjelaskan bagaimana Steve Jobs tampil luar biasa dalam sebuah presentasi. Mulai dari membuka presentasi secara menarik, menampilkan data dan fakta dengan cara berbeda, melakukan demonstrasi produk yang mengundang decak kagum sampai menciptakan momentum dan klimaks yang ditunggu seluruh audiens.
Dalam artikel berikut, saya ingin menjelaskan 9 rahasia teknik presentasi yang dipakai Steve Jobs. Ini berdasarkan pengamatan saya menyaksikan langsung video presentasi Steve Jobs mulai tahun 2001 – 2011 pada Keynote Address di Apple World Wide Developer Conference dan Macworld. Anda bisa belajar dari seorang maestro presentasi dan menggunakan teknik yang sama dalam presentasi Anda.
Presentasi Jobs bisa didownload gratis dari website Apple. Ukuran setiap presentasi ini cukup besar yakni 1-2 Gigabytes dengan durasi hampir 2 jam. Walaupun demikian, menyaksikan presentasi Steve Jobs secara penuh dari awal sampai akhir akan membantu Anda melihat langsung bagaimana seorang presenter hebat tampil di atas panggung dan memukau audiensnya.
Dan inilah rahasia teknik presentasi Steve Jobs berikut penjelasan mengapa teknik itu memberikan dampak besar bagi kesuksesan presentasi Anda.

1. Ciptakan Cerita Di Balik Sebuah Presentasi

Tahukah Anda rahasia penting di balik setiap presentasi yang memukau?
Rahasia itu adalah bagaimana menciptakan cerita di balik sebuah presentasi. Semua orang suka dengan cerita. Dan presentasi yang memiliki cerita di dalamnya akan selalu dikenang audiens.
Alasannya sederhana, cerita mudah diingat. Itu mengapa Anda akan selalu ingat cerita masa kecil yang dikisahkan orangtua Anda dulu. Audiens akan ingat cerita Anda dan cepat melupakan hal-hal lainnya.
Steve Jobs menguasai betul teknik ini. Dalam setiap presentasi dia selalu menyampaikan sebuah cerita. Ketika memperkenalkan iPod di tahun 2001, dia tidak sedang menjelaskan sekedar alat pemutar MP3.
Steve Jobs memilih untuk menceritakan iPod sebagai “1000 lagu yang ada di dalam saku Anda.”

steve-jobs-introduce-ipod

Dalam presentasi yang dia bawakan, Jobs memasukkan sendiri iPod tersebut ke dalam saku celananya. Inilah cerita yang kemudian beredar tentang sebuah alat yang bisa menampung 1000 lagu di dalam kantong Anda.
Ketika memperkenalkan iPhone untuk pertama kalinya di tahun 2007, Steve Jobs tidak ingin produk tersebut hanya dikenal sebagai sebuah ponsel pintar. Melainkan Jobs menyebutnya sebagai ponsel yang mengerti penggunanya. Sebuah ponsel yang menggabungkan alat komunikasi, menikmati multimedia dan penghubung ke dunia internet. Itulah cerita yang disampaikan oleh Jobs.
Sampaikan sebuah cerita dan audiens akan terus mengingat presentasi Anda. Itulah teknik presentasi kelas dunia.


2. Slide Sederhana Namun Kuat Secara Visual

Sebuah slide yang baik seringkali bukan slide yang rumit. Slide yang baik adalah slide yang sederhana, tepat sasaran, dan membantu audiens menangkap dengan cepat gagasan yang ingin disampaikan presenter.
Dalam setiap presentasi, Steve Jobs selalu menggunakan slide-slide yang sangat sederhana. Kadangkala slide tersebut hanya berisi gambar tanpa kata-kata. Ada kalanya slide tersebut hanya berisi angka yang ditulis sangat besar.
Gambar-gambar berikut ini menunjukkan langsung beberapa contoh slide yang dipakai Steve Jobs. Anda bisa melihat betapa simpel slide yang dipakai.

steve-jobs-showing-different-ipods
steve-jobs-slide-2b-songs

Jangan salah, meskipun sederhana, slide tersebut memiliki kekuatan visual.
Lewat gambar yang tepat, Steve Jobs mampu menggugah imajinasi audiens untuk membayangkan apa yang sedang dia ceritakan.
Ketika menampilkan angka, Jobs tidak ingin hanya angka tersebut hanya tampil sebagai sebuah nilai yang tidak dipahami audiens.
Dia menjelaskan kepada semua orang cerita di balik angka tersebut.

steve-jobs-explain-ipod

Jobs tidak pernah membaca slidenya baris per baris seperti yang dilakukan banyak presenter. Dia menjadikan slide sebagai alat pendukung visual dari cerita yang sedang dia sampaikan.
Hebatnya lagi, dia tidak membuat perhatian audiens tertuju kepada slide itu sendiri. Jobs membuat audiens bisa memahami dengan cepat slide yang tampil untuk kemudian memusatkan perhatian pada apa yang dia sampaikan sebagai presenter.

steve-jobs-slide-phone-comparison

Ketika membandingkan ukuran layar berbagai ponsel cerdas yang ada di pasaran pada tahun 2007, dengan cerdas Jobs menampilkan slide yang menunjukkan keyboard berbagai ponsel cerdas tersebut. Jobs mengatakan betapa keyboard tadi memakan tempat yang sangat banyak dan tidak fleksibel digunakan ketika berpindah-pindah aplikasi. Lewat gambar sederhana namun menggugah dia mampu menjelaskan pesannya dengan kuat.
Jika Anda ingin mencontoh teknik membuat slide ala Steve Jobs, belajarlah membuat slide yang sederhana, namun kuat secara visual.
Rancang slide yang cepat dipahami audiens dan mendukung isi presentasi Anda.


3. Gunakan Aturan Tiga Bagian

Dalam penulisan pidato, dikenal aturan tiga bagian. Ini dilakukan karena orang terbiasa memahami banyak hal lewat tiga bagian.
Jobs tahu betul kekuatan di balik tiga bagian ini dan dia menggunakannya di banyak kesempatan.
Ketika menjelaskan apa itu iPhone, Jobs tidak menceritakan terlalu banyak hal yang bisa membuat orang bingung. Dia merangkumnya sebagai sebuah ponsel revolusioner yang memiliki tiga fungsi:
  • Sebuah iPod yang menghibur
  • Sebuah ponsel cerdas
  • Sebuah alat komunikasi internet yang hebat
Gambar berikut menunjukkan bagaimana Jobs menjelaskannya dengan sangat sederhana.

steve-jobs-iphone

Dengan tiga hal tersebut, apa yang dia sampaikan mudah diingat oleh audiens sekaligus mampu merangkum seluruh fitur lainnya.
Jumlah lebih dari tiga sulit diingat audiens. Sementara kurang dari tiga terlalu sedikit sehingga kurang menarik. Gunakan tiga bagian informasi untuk menciptakan kekuatan pada presentasi Anda.


4. Bantu Audiens Memahami Statistik dan Data

Sebuah presentasi kadangkala memerlukan statistik dan data untuk menyampaikan informasi penting kepada audiens. Namun sayangnya, statistik dan data seringkali terasa hambar. Bahasa gaulnya “garing”.
Lantas bagaimana membuat statistik dan data menjadi bermakna? Caranya adalah dengan mengangkat kisah di balik statistik dan data. Ingat, audiens tidak peduli dengan angka yang Anda tampilkan. Melainkan mereka peduli dengan cerita di balik angka tersebut.
Ketika menjelaskan jumlah lagu yang didownload lewat iTunes, Jobs menyampaikan data sederhana dengan mengatakan 2 milyar lagu telah didownload. Sama dengan 5 juta lagu didownload perhari.
Tidak berhenti sampai di situ, Jobs menambahkan cerita bahwa angkat tersebut berarti 58 lagu dibeli orang setiap detik. Untuk lebih memudahkan audiens membayangkannya, Jobs mengatakan, “Ini terjadi setiap menit dalam setiap jam dalam setiap hari.”

steve-jobs-slide-5m-download

Perhatikan bagaimana Jobs mampu menampilkan cerita yang menarik di balik angka. Jika audiens hanya diberikan data 2 milyar lagu yang sudah terjual atau 5 juta lagu per hari, mungkin mereka sulit membayangkan apa arti angka tersebut.
Tapi ketika Jobs membantu dengan analogi bahwa jumlah itu sama dengan 58 lagu per detik setiap harinya, maka audiens dengan cepat bisa membayangkan bahwa angka tersebut sangatlah besar.

steve-jobs-slide-5m-everyday

Ingat, jangan hanya menampilkan angka, statistik ataupun data. Jelaskan pula cerita yang ada di balik angka-angka tersebut. Dengan demikian data dan statistik Anda memiliki kekuatan serta daya pikat. Audiens akan mudah memahaminya sekaligus bersimpati dengan data yang Anda tampilkan.


5. Ciptakan Momentum Kejutan Luar Biasa

Sebuah presentasi yang hebat memiliki kejutan yang membuat audiens terperangah. Jika Anda ingin tampil memukau, ciptakan sebuah momentum yang akan memberi kejutan kepada audiens.
Inilah yang dilakukan Steve Jobs dalam berbagai kesempatan presentasinya.
Pada tahun 2008, Jobs bercerita bahwa Apple telah membuat notebook paling tipis di dunia, Jobs menunjukkan gambar betapa tipis dan ringannya notebook tersebut.
Ketika audiens membayangkan kira-kira seberapa tipis notebook tersebut, tiba-tiba Steve Jobs mengambil sebuah amplop dan mengeluarkan notebook MacBook Air dan menunjukkannya di hadapan audiens.
Penonton terperangah. 

steve-jobs-reveal-macbook-air-from-envelope

Steve Jobs berhasil menciptakan kejutan dalam presentasinya. Sebuah presentasi yang dirancang sedemikian rupa sehingga tiba momentum untuk mengeluarkan notebook dari sebuah amplop biasa. Momen inilah yang membuat presentasi tersebut menjadi spektakuler.
Steve Jobs bisa saja sekedar menjelaskan spesifikasi teknis ukuran notebook tersebut. Namun cara ini tidak memberi kekuatan dan aspek emosional. Audiens sulit membayangkan beda sepersekian sentimeter.
Dengan mengeluarkan notebook tadi dari dalam amplop, maka penjelasan tentang notebook yang tipis menjadi sempurna. Tidak diperlukan ukuran teknis lagi untuk menjelaskannya.
Buat Anda yang ingin menjadi presenter luar biasa, pikirkan dan ciptakan momentum kejutan yang akan menjadi momen paling diingat oleh audiens sekaligus mampu merangkum keseluruhan presentasi Anda.


6. Latihan Untuk Kesempurnaan

Practice makes perfect.
Latihan menciptakan kesempurnaan. Demikian kata orang bijak.
Steve Jobs benar-benar memahami pentingnya sebuah latihan. Dan seorang Steve Jobs melakukan latihan dengan sungguh-sungguh.
Meskipun memiliki posisi tertinggi di perusahaan, Steve Jobs selalu terlibat langsung dalam setiap persiapan presentasi yang dia bawakan. Dia memilih setiap slide yang akan tampil, kapan demonstrasi akan dimulai, bagaimana tata cahaya ketika sebuah kejutan akan tampil, sampai ke seluruh aspek detil lainnya.
Karena itu jangan heran jika Anda menyaksikan Steve Jobs sangat rileks dan terlihat begitu menguasai presentasi yang dia bawakan. Mulai dari kalimat pembuka sampai demonstrasi produk yang dia tampilkan.

steve-jobs-iphone-demonstration

Dia telah berlatih berjam-jam. Tidak hanya sekali, dua kali atau tiga kali. Steve Jobs melatih presentasinya puluhan kali.
Itu mengapa setiap pilihan kata begitu pas, setiap momen tampil pada saat yang tepat, dan keseluruhan presentasi begitu harmonis. Itu semua bisa terjadi dengan latihan terus menerus sehingga tercipta kesempurnaan dalam sebuah penampilan presentasi.
Jadi kesuksesan presentasi Jobs bukanlah kebetulan. Kesuksesan presentasi itu datang dari persiapan yang sangat matang serta kesungguhan untuk menampilkannya secara menarik.
Jika Anda merasa presentasi yang akan Anda bawakan sangat penting, tirulah apa yang Jobs lakukan. Latih dan ulang presentasi Anda sampai Anda betul-betul menguasainya. Kerja keras dari latihan yang sungguh-sungguh akan terbayar ketika Anda tampil memukau di hadapan publik.


7. Have Fun, Nikmati Presentasi Anda

Menyampaikan presentasi tidak harus selalu serius. Anda pun bisa bersenang-senang dengan presentasi yang Anda bawakan.
Steve Jobs menunjukkan bagaimana dia menikmati presentasi yang dibawakan. Bagaimana dia menyelipkan humor yang menyegarkan ketika melakukan demonstrasi produk. Bagaimana dia memilih kata-kata yang mengundang audiens tersenyum.
Bahkan ketika sedang menyampaikan presentasi penting peluncuran iPhone di tahun 2007, terjadi sesuatu hal yang tak terduga. Tiba-tiba clicker yang digunakan Jobs tidak berfungsi.
Bukannya frustrasi atau marah, Jobs malah bercanda dan mengatakan “My clicker is not working.” Dia kemudian mengganti dengan clicker lainnya namun tetap tidak berfungsi.
Menghadapi situasi tak terduga yang mengganggu ini, Jobs tidak frustrasi. Dia mengalihkan pembicaraan dan bercerita apa yang dia lakukan bersama Steve Wozniak ketika masih duduk di bangku sekolah. Jobs bahkan menampilkan gerakan aneh di atas panggung sebagai “pengisi waktu” sampai clicker yang bermasalah tersebut teratasi.

steve-jobs-have-fun

Inilah salah satu ciri presenter kelas dunia. Mereka tidak terpengaruh oleh situasi tidak terduga yang mungkin muncul.
Bayangkan jika Steve Jobs marah di atas panggung dan menunjukkan rasa kesal karena alat yang dia pakai tidak berfungsi, maka yang terjadi dia akan memberikan energi negatif kepada seluruh audiens dan merusak seluruh penampilannya.
Sebaliknya, Jobs memilih bersikap positif dan selalu “having fun”. Steve Jobs mengubah kejadian tidak menyenangkan menjadi sebuah hiburan singkat yang membuat dirinya dan audiens tetap menikmati presentasi yang dibawakan.
Nikmati presentasi yang Anda bawakan. Jika Anda merasa “fun” dengan presentasi Anda, maka semangat positif itu pun akan menular kepada audiens.


8. Tunjukkan Passion Anda

Sebagai seorang pembicara publik, Anda perlu menunjukkan passion Anda kepada audiens. Ingat, semangat itu menular. Jika Anda bersemangat, termotivasi, dan menunjukkan keyakinan, maka audiens pun akan terpengaruh.
Sebaliknya jika Anda tampil loyo, tidak yakin dengan apa yang dibawakan maka audiens pun akan jenuh dengan presentasi Anda.

steve-jobs-showing-passion-in-presentation

Inilah yang selalu dilakukan Jobs dalam presentasinya. Dia menjadi orang yang yakin betul dengan apa yang disampaikan. Itu mengapa semangatnya terpancar lewat tatapan mata, isyarat tubuh, kekuatan suara dan setiap demonstrasi yang dia lakukan.
Tanpa passion maka presentasi Anda menjadi hambar.
Tidak memiliki hentakan yang membuat audiens ingin terus menyaksikan.
Tunjukkan semangat dan antusiasme lewat ucapan, bahasa tubuh, dan seluruh aspek komunikasi Anda.


9. Gunakan Kata-Kata Yang Powerful Namun Mudah Dipahami

Dalam setiap presentasi, sangat penting untuk mempersiapkan pilihan kata yang tepat pada momen yang tepat. Itu mengapa latihan sangat penting. Salah satu fungsi latihan adalah untuk menemukan dan melatih pilihan kata yang ketika disampaikan pada momen yang tepat akan menciptakan efek luar biasa pada presentasi Anda.
Steve Jobs memperhatikan betul hal tersebut. Ketika dia menyampaikan presentasi perkenalan iPhone, dia menyebutkan, “Today, Apple is going to reinvent the phone.” 

steve-jobs-slide-apple-reinvents-the-phone

Kalimat tersebut dia ulang beberapa kali pada momen yang berbeda.
Apakah kalimat tersebut diucapkan Steve Jobs begitu saja di atas panggung?
Tentu saja tidak.
Dia sudah mempersiapkan kalimat tersebut untuk disampaikan pada momen yang tepat. Dan kalimat itu pula yang digunakan media massa ketika menerbitkan berita keesokan harinya.
Tidak hanya itu, Steve Jobs pun sangat sering menggunakan kata-kata yang menunjukkan semangat, antusiasme, rasa kagum dan hal positif lainnya. Berkali-kali dia menyebutkan:
“Isn’t it amazing?” – Bukankah ini mengagumkan?
“Isn’t that unbelievable?” – Bukankah hal itu tak dapat dipercaya?
“The coolest thing about iPod is your entire music library fits in your pocket.” – Hal paling keren dari Ipod adalah seluruh koleksi musik Anda muat di dalam kantong saku.
Steve Jobs tidak pernah menggunakan kata-kata yang sulit dimengerti atau membuat audiens harus mengernyitkan dahi untuk memahaminya. Dia selalu memakai kata-kata sederhana. Kata-kata yang mampu menjelaskan ide dalam bahasa audiens-nya. Kata-kata yang menggugah dan menunjukkan antusiasme.
Meskipun berbicara tentang teknologi, apa yang Jobs sampaikan bisa dimengerti dengan mudah oleh orang yang gaptek sekalipun.
Ingat, Anda menjadi seorang presenter hebat bukan karena menggunakan kata-kata rumit agar terlihat terpelajar. Sama sekali tidak. Presenter hebat adalah orang yang mampu memilih bahasa paling sederhana yang mudah dan cepat dipahami audiensnya.


Teknik Presentasi Luar Biasa

Itulah rahasia teknik presentasi Steve Jobs yang dikagumi banyak orang. Jika Anda menerapkan teknik-teknik presentasi di atas, niscaya setiap kesempatan akan menjadi momen presentasi yang memukau audiens.
Jika Anda ingin memahami lebih jauh teknik-teknik presentasi Steve Jobs, Anda juga bisa membaca buku “The Presentation Secrets of Steve Jobs – How to Be Insanely Great in Front of Any Audience” yang ditulis oleh Carmine Gallo, seorang kolumnis Businessweek.com

book-the-presentation-secrets-of-steve-jobs

Buku ini membahas secara mendalam aspek-aspek presentasi ala Steve Jobs disertai referensi kapan dan di mana Steve Jobs melakukannya.
Buku tersebut juga sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Erlangga dengn judul: “Rahasia Presentasi Steve Jobs – Bagaimana Tampil Luar Biasa Hebat di Depan Setiap Audiens”.




http://www.presentasi.net/

Rabu, 09 Januari 2013

Presentasi Contoh Presentasi : Inspiratif Anies Baswedan – Indonesia Mengajar

Presentasi Contoh Presentasi : Inspiratif Anies Baswedan – Indonesia 


MengajarBerikut adalah presentasi inspiratif oleh Anies Baswedan di TEDx Jakarta. Presentasi ini bercerita sebuah program luar biasa “Indonesia Mengajar” yang mengajak anak muda terbaik Indonesia mengajar di daerah-daerah terpencil yang kesulitan mendapatkan guru. Para anak muda ini bersedia tinggal di daerah yang jauh, terpencil, dan tak jarang tanpa listrik maupun sinyal telepon.
Dalam presentasi ini, Anda akan belajar bagaimana cara memberi inspirasi kepada audiens dengan pendekatan bercerita, menggunakan kalimat-kalimat kuat yang mampu menggugah emosi, imajinasi, dan empati dari audiens, serta menggunakan slide-slide berupa foto-foto langsung dari sebuah kejadian yang seringkali lebih kuat dan bisa bercerita banyak hal daripada slide berbentuk tulisan.




Analisis Presentasi

Anies Baswedan – Menyalakan Masa Depan Indonesia

Pembuka

Anies membuka presentasi ini dengan mengajak audiens melihat betapa kompleks permasalahan pendidikan di Indonesia. Dari semua permasalahan dan perbincangan tentang pendidikan tersebut, guru adalah sosok yang paling nyata berdiri di depan kelas dan mendidik anak-anak Indonesia. Dengan cara ini, Anies berhasil mengajak audiens untuk fokus pada tema besar yang dibahas: guru SD di daerah pelosok Indonesia.
Anies mengajukan argumentasi ada dua alasan mengapa program ini dilakukan:

  • Mengisi kekosongan guru di daerah-daerah pelosok Indonesia
  • Menciptakan sosok pemimpin masa depan Indonesia dengan menjadi guru selama setahun di daerah terpencil

Isi

Presentasi ini menjadi sangat inspiratif karena menyentuh aspek yang membutuhkan perhatian semua pihak yakni pendidikan. Cara Anies menyampaikan presentasinya begitu menggugah karena dia menyajikan contoh langsung lewat cerita. Bagaimana ribuan pemuda cerdas Indonesia lulusan perguruan tinggi terbaik bersedia mengajar di tempat-tempat yang sulit. Bagaimana program ini mampu memberi harapan bagi tempat-tempat terpencil yang tidak pernah diperhatikan bahwa ada orang yang bersedia datang ke tempat mereka. Dan bagaimana proses belajar mengajar ini akan menjadi pengalaman luar biasa bagi para lulusan perguruan tinggi yang menjadi guru di sana, sekaligus melihat langsung potensi para pelajar Indonesia di daerah itu.
Anies juga menggunakan beberapa teknik untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan lewat penekanan. Beberapa kalimat tersebut yang dia pakai diantaranya:

“Hati kita bergetar membaca itu semua.”
Anies menggunakan kalimat tersebut ketika menjelaskan begitu menyentuh essay yang ditulis oleh hampir 2000 pemuda Indonesia tentang alasan mengapa mereka mau mengajar di daerah terpencil.
Dalam presentasi, penggunaan kalimat ini dikenal dengan hiperbola yakni membesarkan sesuatu yang ingin menjadi penekanan. Hati bergetar adalah bahasa kiasan untuk menunjukkan betapa luar biasa pengaruhnya kepada orang yang menyaksikan atau membaca.

“I have gone the worst. This is nothing.”
Anies menyampaikan kalimat ini ketika menjelaskan program persiapan buat calon pengajar dengan melatih survival mereka di hutan mengandalkan perlengkapan seadanya. Dengan kalimat itu, Anies ingin menekankan bahwa para pengajar ini telah berlatih menjalani kehidupan yang sulit selama 3 hari sehingga nantinya mereka bisa mensyukuri ketika berada di tempat terpencil karena mereka telah melalui masa-masa yang lebih sulit.

“Soekarno-Hatta memiliki seluruh pilihan untuk mereka hidup nyaman bagi dirinya dan keluarganya. Dan dia tinggalkan semua itu untuk mengusahakan kemerdekaan bagi bangsa ini. Kalian memiliki seluruh kesempatan untuk berkarir nyaman di kota-kota besar. Kalian adalah pejuang. Dan hadirnya kalian menunjukkan bahwa ibu kita masih melahirkan pejuang.”
Kalimat ini disampaikan pada momen keberangkatan para pengajar. Kalimat tersebut sangat heroik dan mampu menciptakan momentum untuk menekankan betapa penting dan berharganya apa yang sedang disampaikan Anies sebagai presenter.
Perhatikan dalam presentasi ini Anies tidak menggunakan banyak slide. Dan slide-slide yang digunakannya adalah gambar-gambar yang ditampilkan penuh di layar. Jika Anda ingin memberikan presentasi yang menggugah, selain cara Anda menyampaikannya lewat kalimat, maka penggunaan gambar langsung akan mampu menyentuh sisi emosional audiens. Pilih gambar yang benar-benar tepat dan membuat audiens berpikir, merenung, dan berempati terhadap ide yang sedang Anda sampaikan.

Penutup

Sebagai penutup Anies menekankan kembali pentingnya pendidikan menjadi perhatian semua orang. Dia menutupnya dengan kalimat berikut:
“Mendidik tidak dipandang sebagai tugas sekolah atau tugas pemerintah tapi mendidik adalah tugas tiap orang terdidik. Siapa saja bisa menjadi guru, siapa saja bisa mendidik.”
Dengan kalimat itu, Anies berhasil menutup presentasi ini dengan baik dan memukau.

Kesimpulan

Anda mungkin bertanya, bagaimana caranya agar saya bisa memberi presentasi yang inspiratif kepada pendengar? Caranya sederhana. Coba gali dengan baik topik presentasi yang akan Anda bawakan. Coba lihat sisi mana yang bisa menyentuh emosi dan perasaan audiens. Temukan dan persiapkan kalimat-kalimat kunci yang akan membawa mereka memahami, merenungi dan akhirnya berempati terhadap gagasan Anda. Buat orang yang sudah terlatih berbicara di depan umum, ada kalanya kalimat inspiratif bisa keluar begitu saja tanpa harus dipersiapkan terlebih dahulu. Namun jika Anda belum pada tahapan seperti itu, persiapkanlah kalimat-kalimat tadi, latih berulang-ulang sampai Anda akan mampu menyampaikan dengan baik dalam sebuah presentasi besar.


http://www.presentasi.net/

Senin, 07 Januari 2013

Contoh Presentasi : Pidato Presiden Barrack Obama di Universitas Indonesia

Pidato Presiden Barrack Obama di Universitas Indonesia

Berikut adalah pidato Presiden Obama di Universitas Indonesia. Pidato ini sangat menarik untuk dianalisis bagaimana Presiden Obama berusaha tampil dengan menciptakan hubungan emosional dengan audiensnya. Obama menciptakan rasa bahwa “saya juga seperti Anda”. Teknik ini untuk membangun rapport dan menciptakan keterhubungan dengan audiens.





Beberapa frasa menarik yang digunakan Obama:

“Pulang kampung nih.”
Ini kalimat awal yang disampaikan Obama setelah menyampaikan salam. Kalimat ini sangat efektif dalam membangun keterhubungan awal Obama sebagai orator dengan audiensnya. Dengan kalimat ini, Obama ingin menyampaikan pesan, “Saya bagian dari Anda”.
“Indonesia bagian dari diri saya.”
Kalimat ini mendapat tepuk tangan meriah dari audiens. Obama bercerita bagaimana awal dia tinggal di Indonesia karena ibunya menikah dengan seorang warga Indonesia. Obama bercerita bagaimana dia sebagai seorang anak kecil beradaptasi dengan masyarakat Indonesia. Obama juga menceritakan tentang Hotel Indonesia, pusat perbelanjaan Sarinah, banyaknya becak dan bemo. Tak lupa dia mengatakan dirinya sebagai anak “Menteng Dalam”. Obama juga berkisah bagaimana dia bermain layang-layang, makan sate dan bakso. Bahkan tak lupa Obama menirukan bagaimana suara tukang sate dan bakso dengan mengucapkan, “Sate, bakso, enak ya.”
Perhatikan kalimat ini sangat efektif dalam menarik simpati audiens. Obama berhasil menciptakan nostalgia masa lalu yang membuat audiens bersimpati dengan apa yang dia lakukan.
Tidak ada teman-teman yang menyangka bahwa saya akan datang kembali sebagai presiden. Obama bahkan cukup update bahwa orang Indonesia terkoneksi dengan baik dengan sosial media. Dan bagaimana Indonesia akan menjadi negara yang diperhitungkan di Asia Pasifik.
Kalimat ini juga sangat cerdas dalam memperkuat koneksi yang terbangun antara Obama dengan audiens di Indonesia.
Selanjutnya Obama mengatakan,
“Saya ingin menyampaikan tiga hal: Development, Democracy and Religious Faith”.
Perhatikan bagaimana Obama juga menggunakan rules of three yang sangat efektif untuk menyampaikan isi pidatonya. Dengan membagi pidatonya dalam tiga hal, Obama membuat audiens mudah mengikuti apa yang akan dia sampaikan sekaligus mengingatnya.
“Nusantara that stretch from Sabang to Merauke”
Kalimat sederhana ini menunjukkan bahwa Obama perhatian kepada siapa dia berbicara dan apa yang ingin mereka dengarkan.
“Bhinneka Tunggal Ika, Unity in Diversity”
Di sini terlihat bagaimana Obama benar-benar mempersiapkan pidatonya dengan mempelajari dengan baik negara yang dia tuju. Secara khusus Obama bercerita kunjungannya ke Masjid Istiqlal, makna dari kata Istiqlal, dan bagaimana masjid tersebut dirancang oleh arsitek yang beragama Kristen.
“Sebagai penutup saya mengucapkan kepada seluruh rakyat Indonesia. Terima kasih. Assalamualaikum.”
Obama berusaha mengucapkan seluruh kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia. Ini menunjukkan bagaimana dia menghargai audiens yang dia tuju dan membuat audiens merasa terhormat atas usahanya berbicara dalam bahasa Indonesia.

Kesimpulan

Tidak dapat dipungkiri Presiden Obama dikenal sebagai seorang orator yang handal. Kemampuannya berbicara secara berwibawa, menyampaikan pesan yang menggugah audiens, serta menciptakan hubungan bahwa dirinya bagian dari audiens adalah keahlian Obama. Anda bisa belajar dari teknik-teknik yang dipakai oleh Presiden Obama dalam setiap kesempatannya berpidato.
Secara khusus dalam buku “Say It Like Obama and Win – The Power of Speaking With Purpose and Vision” Shel Leanne menjelaskan teknik yang dipakai Obama dengan menganalis pidato-pidato yang pernah dia sampaikan. Anda bisa belajar secara lebih mendalam teknik public speaking dari seorang orator handal. 



http://www.presentasi.net/

Minggu, 06 Januari 2013

Contoh Presentasi dan Alasan Membuatnya

Contoh Slide Presentasi Yang Baik dan Alasan Penggunaannya

Seperti apa contoh slide presentasi yang baik ? Disini dijelaskan  hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat slide sehingga memberi hasil optimal untuk membantu kesuksesan sebuah presentasi. Sebagaimana dijelaskan M.Noer berikut ini



Seeing is believing. Untuk memudahkan memberi jawaban, saya akan menggunakan contoh beberapa slide aktual yang saya pakai dalam presentasi kepada khalayak dan mengapa slide tersebut digunakan. Saya menggunakan studi kasus presentasi berjudul: “Building Learning Culture Towards A Learning Organization” yang disampaikan pada seminar Himpunan Pengelola Sumber Daya Manusia Indonesia (HPSMI) dan beberapa seminar lainnya.


Slide Pertama: Pembukaan Yang Kuat Dengan Kutipan


Slide berikut adalah pembukaan berupa kutipan dari Alvin Toffler. Fungsi slide ini untuk memberi pembukaan yang kuat (impactful) sekaligus memperkuat tema yang dibahas. Slide ini membantu menegaskan bahwa proses belajar (learning) adalah suatu keharusan baik buat individu maupun organisasi. Perhatikan slide seperti ini harus mudah dibaca dan jika diperlukan bisa diberi penekanan pada frase khusus dengan warna yang berbeda, diberi cetak miring atau tebal.

Slide Kedua: Latar Belakang Yang Visual

Slide ini memberi pengantar atau latar belakang mengapa sebuah organisasi perlu terus belajar. Perhatikan bahwa slide ini sebenarnya sangat sederhana. Versi simpel-nya adalah dengan membuat bulleted list. Namun dengan mengubahnya menjadi gambar visual Anda dapat membuatnya lebih baik dan memberi kesan kuat bagi audiens. Jika ingin memberi gambar, usahakan gambar yang digunakan memiliki hubungan dengan teks yang mendampingi. Jika tidak, audiens akan bingung dan berusaha mencari asosiasi antara gambar dengan teks sehingga perhatian mereka teralihkan dari Anda sebagai presenter.

Slide Ketiga: Pembahasan Yang Lengkap

Slide berikut cukup kompleks karena banyaknya teks yang muncul. Slide seperti ini bisa disederhanakan hanya dengan menampilkan komponen kunci tanpa deskripsi. Namun dengan mempertimbangkan agar slide ini mudah dibaca kembali oleh audiens maka deskripsi ringkas tetap diberikan. Saya menggunakan model segi lima untuk memberi penekanan bahwa seluruh komponen dalam sebuah Learning Organization adalah setara dan sama pentingnya.

Slide Keempat: Diagram Komponen Yang Saling Berhubungan

Dalam slide berikut dijelaskan 3 komponen penting agar tercipta budaya sharing di perusahaan yakni:
  • Kontributor
  • Audiens
  • Media sharing
Slide ini juga bisa dibuat sangat sederhana hanya dengan bullet list seperti di atas. Akan tetapi dengan membuat diagram sederhana akan memberi dampak lebih kuat secara visual karena audiens akan melihat ketiganya saling berhubungan. Jika yang satu tidak ada maka akan membuat yang lain tidak maksimal. Perhatikan pula deskripsi ringkas dari masing-masing komponen untuk memudahkan audiens memahaminya.

Slide Kelima: Kesimpulan Dengan Penekanan Kata Kunci

Slide berikut adalah slide yang sangat sederhana dan menyimpulkan isi presentasi. Slide ini menggunakan bullet list standar. Jika Anda perhatikan, sebenarnya slide ini kurang memenuhi kaidah maksimum 7 baris. Namun karena daftar tersebut akan sangat tanggung jika dipecah dalam dua slide maka saya paksakan namun tetap mempertahankan kalimat sependek mungkin dan mudah dibaca oleh audiens yang duduk paling jauh. Perhatikan pula model bullet list bisa diperkuat dengan memberi penekanan tertentu pada kata-kata kunci. Dalam beberapa hal, Anda bahkan dapat menuliskan hanya kata kuncinya saja dalam slide dan memberikan penjelasan ketika presentasi disampaikan.

Slide Keenam: Penutup Yang Ringkas dan Mudah Diingat

Slide terakhir digunakan untuk memberi penutup yang kuat dan menyimpulkan keseluruhan presentasi dalam bahasa sederhana:
  • I learn – I share – I grow
  • Knowledge menciptakan Performance menghasilkan Sustainable Growth

Penggunaan diagram panah berputar yang saling berhubungan berguna untuk memberi efek visual kepada audiens bahwa komponen sebelumnya akan menjadi pendorong terciptakan komponen selanjutnya dan ini akan terus berulang seperti sebuah siklus.
Itulah beberapa slide yang saya pakai dan alasan penggunaannya. Jika Anda akan membuat slide presentasi, hal pertama yang harus ditanyakan adalah:
  • Apakah saya memerlukan slide tersebut?
  • Apakah slide tersebut mendukung apa yang akan saya sampaikan dalam presentasi?
  • Bagaimana agar slide tersebut ringkas, sederhana, namun memiliki dampak yang kuat buat audiens?
  • Apakah sebaiknya dibuat dalam bentuk bulleted list, diagram, chart, gambar atau lainnya?
Selamat menyusun slide untuk membantu Anda memberikan presentasi yang mengesankan. Semoga contoh di atas memberi inspirasi dan ide buat Anda. Terima kasih buat pembaca blog ini yang bertanya tentang hal tersebut sehingga memberi saya ide menuliskannya.



http://www.muhammadnoer.com/

Sabtu, 05 Januari 2013

Contoh presentasi : 3 Teknik Presentasi & Berbicara Kelas Dunia


obama-presentasi

Inilah 3 Teknik Berbicara Kelas Dunia


Apa kesamaan dari Obama, Al-Gore, atau Steve Jobs? Mereka adalah orang-orang yang hebat ketika tampil di depan publik untuk menyampaikan pidato atau presentasi. Mereka juga menggunakan teknik-teknik tertentu yang membuat apa yang mereka sampaikan memukau audiensnya.

Anda pun bisa seperti mereka. Berikut beberapa rahasia teknik berbicara kelas dunia yang bisa Anda terapkan dalam presentasi. Beberapa diantaranya:

The Rule of Three

Para penulis pidato telah lama mengetahui ada rahasia khusus dibalik “aturan tiga bagian” ini. Secara sederhana, teknik ini membagi pokok pemikiran yang ingin Anda bicarakan dalam 3 bagian.
Steve Jobs sangat sering menggunakan teknik ini dalam berbagai presentasinya dengan mengatakan, “Today, I want to talk about three things.” Setelah itu dia akan mulai menjelaskan bagian demi bagian. Cara ini membuat audiens mengerti apa yang ingin dibicarakan dan mengingat setiap bagian dengan baik.
Mengelompokkan ide dalam tiga bagian selalu memberi kekuatan tersendiri dibanding jumlah lainnya. Dua terlalu sedikit dan tidak menarik, sementara empat atau lebih terlalu banyak sehingga susah diingat.
Gunakan teknik ini dan rasakan bagaimana pesan Anda memiliki kekuatan di hadapan audiens.

Anaphora

Anaphora adalah melakukan pengulangan dari sebuah kata (atau kelompok kata) dalam beberapa kalimat yang berurutan. Pengulangan dilakukan untuk memberi penekanan. Inilah inti pesan yang ingin disampaikan dan diharapkan untuk terus diingat oleh audiens. Penggunaan anaphora ketika dipadukan dengan nada suara tertentu juga mampu menciptakan efek dramatis terutama menjelang penutupan sebuah presentasi.
Contoh anaphora paling terkenal adalah pidato Marthin Luther King ketika dia mengulang sebanyak delapan kali frasa “I have a dream”. Inilah kutipan pidatonya.
“Let us not wallow in the valley of despair, I say to you today, my friends.
And so even though we face the difficulties of today and tomorrow, I still have a dream. It is a dream deeply rooted in the American dream.
I have a dream that one day this nation will rise up and live out the true meaning of its creed: “We hold these truths to be self-evident, that all men are created equal.”
I have a dream that one day on the red hills of Georgia, the sons of former slaves and the sons of former slave owners will be able to sit down together at the table of brotherhood.
I have a dream that one day even the state of Mississippi, a state sweltering with the heat of injustice, sweltering with the heat of oppression, will be transformed into an oasis of freedom and justice.
I have a dream that my four little children will one day live in a nation where they will not be judged by the color of their skin but by the content of their character.
I have a dream today!
I have a dream that one day, down in Alabama, with its vicious racists, with its governor having his lips dripping with the words of “interposition” and “nullification” — one day right there in Alabama little black boys and black girls will be able to join hands with little white boys and white girls as sisters and brothers.
I have a dream today!
I have a dream that one day every valley shall be exalted, and every hill and mountain shall be made low, the rough places will be made plain, and the crooked places will be made straight; “and the glory of the Lord shall be revealed and all flesh shall see it together. ” ”
Ketika Anda akan menyampaikan sebuah presentasi, coba pikirkan apa pesan utama yang ingin disampaikan dalam satu kata atau beberapa kata. Pilih momen yang tepat untuk menyampaikannya. Latih kata atau frasa tersebut dalam beberapa kalimat sebelum tampil sehingga pada saatnya, Anda bisa menampilkan anaphora yang mengejutkan sekaligus memukau audiens.

Hiperbola

‘Membesar-besarkan sesuatu’ untuk memberi penekanan dikenal dengan istilah hiperbola. Anda mungkin ingat ketika belajar bahasa dulu kita mengenal contoh-contoh hiperbola:
Rumahnya seluas istana.
(Meskipun rumah seseorang sangat luas, namun kecil kemungkinan benar-benar seluas istana yang bisa memiliki puluhan bahkan ratusan kamar.)
Suaranya menggelegar memecahkan telingaku.
(Walaupun Anda mendengar suara seseorang yang sangat keras, tapi tentu tidak sampai benar-benar memecahkan gendang telinga)
Teknik hiperbola jika dipakai secara tepat dapat memperkuat dan memberi efek dramatis terhadap sebuah presentasi. Gunakan teknik ini secara hati-hati hanya pada sesuatu yang memang layak dibesarkan untuk membuat penekanan yang penting.
Berikut beberapa contoh kalimat untuk membantu imajinasi Anda:
Hari ini, saya akan menyingkap rahasia yang akan mengubah dunia Anda.
(Mungkin apa yang Anda sampaikan tidak akan mengubah dunia seseorang, namun Anda cukup percaya bahwa hal itu mampu membawa perubahan yang cukup besar bagi orang tersebut.)
Berikut ini, saya akan memperkenalkan produk revolusioner yang merupakan temuan hebat abad ini.
(Sebuah penemuan hebat dalam satu abad haruslah yang benar-benar menjadi pembicaraan semua orang. Produk yang Anda perkenalkan mungkin tidak sehebat itu. Anda bisa menggunakan kalimat tersebut jika produk yang diperkenalkan memang revolusioner dan memiliki kehebatan tersendiri dibandingkan produk sejenis.)
Demikianlah 3 teknik berbicara kelas dunia yang bisa Anda terapkan dalam presentasi.
Gunakan secara bijak dan jadilah presenter yang memukau dalam setiap kesempatan. 


http://www.presentasi.net/

Jumat, 04 Januari 2013

Contoh Slide Presentasi Yang Baik dan Alasan Penggunaannya

Seorang pembaca blog ini, Adji Hassan Arief bertanya seperti apa contoh slide presentasi yang baik. Pertanyaan ini muncul menanggapi posting saya tentang prinsip penggunaan slide yang baik. Posting tersebut menjelaskan hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat slide sehingga memberi hasil optimal untuk membantu kesuksesan sebuah presentasi.
Slide 0 - Building Learning Culture Towards Learning Organization
Seeing is believing. Untuk memudahkan memberi jawaban, saya akan menggunakan contoh beberapa slide aktual yang saya pakai dalam presentasi kepada khalayak dan mengapa slide tersebut digunakan. Saya menggunakan studi kasus presentasi berjudul: “Building Learning Culture Towards A Learning Organization” yang disampaikan pada seminar Himpunan Pengelola Sumber Daya Manusia Indonesia (HPSMI) dan beberapa seminar lainnya.
Slide 1 - Pembukaan Yang Kuat Dengan Kutipan

Slide Pertama: Pembukaan Yang Kuat Dengan Kutipan


Slide berikut adalah pembukaan berupa kutipan dari Alvin Toffler. Fungsi slide ini untuk memberi pembukaan yang kuat (impactful) sekaligus memperkuat tema yang dibahas. Slide ini membantu menegaskan bahwa proses belajar (learning) adalah suatu keharusan baik buat individu maupun organisasi. Perhatikan slide seperti ini harus mudah dibaca dan jika diperlukan bisa diberi penekanan pada frase khusus dengan warna yang berbeda, diberi cetak miring atau tebal.
Slide 2 - Latar Belakang Yang Visual

Slide Kedua: Latar Belakang Yang Visual

Slide ini memberi pengantar atau latar belakang mengapa sebuah organisasi perlu terus belajar. Perhatikan bahwa slide ini sebenarnya sangat sederhana. Versi simpel-nya adalah dengan membuat bulleted list. Namun dengan mengubahnya menjadi gambar visual Anda dapat membuatnya lebih baik dan memberi kesan kuat bagi audiens. Jika ingin memberi gambar, usahakan gambar yang digunakan memiliki hubungan dengan teks yang mendampingi. Jika tidak, audiens akan bingung dan berusaha mencari asosiasi antara gambar dengan teks sehingga perhatian mereka teralihkan dari Anda sebagai presenter.
Slide 3 - Pembahasan Yang Lengkap

Slide Ketiga: Pembahasan Yang Lengkap

Slide berikut cukup kompleks karena banyaknya teks yang muncul. Slide seperti ini bisa disederhanakan hanya dengan menampilkan komponen kunci tanpa deskripsi. Namun dengan mempertimbangkan agar slide ini mudah dibaca kembali oleh audiens maka deskripsi ringkas tetap diberikan. Saya menggunakan model segi lima untuk memberi penekanan bahwa seluruh komponen dalam sebuah Learning Organization adalah setara dan sama pentingnya.
Slide 4 - Diagram Komponen Yang Saling Berhubungan

Slide Keempat: Diagram Komponen Yang Saling Berhubungan

Dalam slide berikut dijelaskan 3 komponen penting agar tercipta budaya sharing di perusahaan yakni:
Slide ini juga bisa dibuat sangat sederhana hanya dengan bullet list seperti di atas. Akan tetapi dengan membuat diagram sederhana akan memberi dampak lebih kuat secara visual karena audiens akan melihat ketiganya saling berhubungan. Jika yang satu tidak ada maka akan membuat yang lain tidak maksimal. Perhatikan pula deskripsi ringkas dari masing-masing komponen untuk memudahkan audiens memahaminya.
Slide 5 - Kesimpulan Dengan Penekanan Kata Kunci

Slide Kelima: Kesimpulan Dengan Penekanan Kata Kunci

Slide berikut adalah slide yang sangat sederhana dan menyimpulkan isi presentasi. Slide ini menggunakan bullet list standar. Jika Anda perhatikan, sebenarnya slide ini kurang memenuhi kaidah maksimum 7 baris. Namun karena daftar tersebut akan sangat tanggung jika dipecah dalam dua slide maka saya paksakan namun tetap mempertahankan kalimat sependek mungkin dan mudah dibaca oleh audiens yang duduk paling jauh. Perhatikan pula model bullet list bisa diperkuat dengan memberi penekanan tertentu pada kata-kata kunci. Dalam beberapa hal, Anda bahkan dapat menuliskan hanya kata kuncinya saja dalam slide dan memberikan penjelasan ketika presentasi disampaikan.
Slide 6 - Penutup Yang Ringkas Dan Mudah Diingat

Slide Keenam: Penutup Yang Ringkas dan Mudah Diingat

Slide terakhir digunakan untuk memberi penutup yang kuat dan menyimpulkan keseluruhan presentasi dalam bahasa sederhana:

Penggunaan diagram panah berputar yang saling berhubungan berguna untuk memberi efek visual kepada audiens bahwa komponen sebelumnya akan menjadi pendorong terciptakan komponen selanjutnya dan ini akan terus berulang seperti sebuah siklus.
Itulah beberapa slide yang saya pakai dan alasan penggunaannya. Jika Anda akan membuat slide presentasi, hal pertama yang harus ditanyakan adalah:
Selamat menyusun slide untuk membantu Anda memberikan presentasi yang mengesankan. Semoga contoh di atas memberi inspirasi dan ide buat Anda. Terima kasih buat pembaca blog ini yang bertanya tentang hal tersebut sehingga memberi saya ide menuliskannya.

Contoh presentasi : Bahasa tubuh dalam presesentasi


al-gore-gesture

Menampilkan Bahasa Tubuh Yang Memukau Dalam Presentasi

Segala yang Anda tampilkan ketika presentasi—baik itu suara, slide maupun bahasa tubuh yang Anda tampilkan—adalah komunikasi. Karena itu, menampilkan bahasa tubuh yang baik menjadi penting. Demikian pula, menghindari bahasa tubuh yang kontra produktif terhadap presentasi Anda menjadi sebuah keharusan.

Bahasa tubuh adalah respon alami tubuh. Karena itu Anda tidak bisa membohonginya.
Ketakutan, kekhawatiran dan ketidakpercayaan diri dengan sendirinya akan terpancar dari bahasa tubuh yang Anda tampilkan. Sebaliknya, ketika Anda merasa yakin, percaya diri dan menikmati presentasi yang Anda bawakan, dengan sendirinya bahasa tubuh yang positif akan tertampilkan.
Oleh karena itu, langkah pertama dalam menampilkan bahasa tubuh yang positif adalah dengan memiliki keyakinan dan kepercayaan diri ketika tampil.

Bahasa Tubuh Negatif

Pernahkah Anda cukup teliti memperhatikan orang yang menyilangkan kaki, memasukkan tangan ke kantong, atau menyembunyikan tangan ke belakang?
Itu adalah contoh bahasa tubuh yang kurang baik dan harus Anda hindari ketika memberikan presentasi.

Tangan di saku

Ketika Anda memasukkan tangan ke saku, Anda tampak kurang terbuka. Seolah-olah ada yang ingin Anda sembunyikan. Sikap ini juga secara alami muncul jika Anda tidak terlalu yakin dengan apa yang Anda bicarakan. Hindari melakukan hal ini. Segera keluarkan tangan Anda setiap kali Anda sadar telah memasukkan tangan ke dalam saku celana.

Tangan di belakang

Bentuk lain dari bahasa tubuh yang kurang terbuka adalah menaruh tangan Anda di belakang pinggang. Sama seperti memasukkan tangan di saku, hal ini menunjukkan kurangnya keterbukaan.

Berdiri dengan bertumpu di satu kaki

Tak jarang seorang pembicara tampil dengan bertopang pada satu kaki. Kaki yang satu menahan bobot tubuh, sedangkan kaki yang lain lebih santai. Cara ini, selain terlihat tidak indah karena tubuh Anda akan miring ke salah satu sisi, juga menunjukkan presenter tampil seperti orang malas dan tidak serius dalam menyampaikan presentasi.

Menggaruk hidung atau kepala

Tak jarang presenter melakukan bahasa tubuh negatif berulang-ulang, diantaranya menggaruk-garuk hidung atau menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Ini terjadi karena kurang percaya diri. Jika Anda memiliki kebiasaan ini, hilangkan segera. Segera hentikan, jika Anda sadar telah melakukannya dalam sebuah presentasi.

Bahasa Tubuh Positif

Setelah Anda mengetahui bahasa tubuh yang harus dihindari, sekarang saya ingin mengajak Anda melihat bagaimana bahasa tubuh yang baik itu sebenarnya.
Cobalah praktekkan ini di hadapan cermin. Atau lebih baik lagi, rekam bahasa tubuh Anda dan saksikan sendiri bagaimana Anda tampil.

Berdiri tegak, namun rileks

Ketika Anda yakin dan percaya diri, Anda akan berdiri tegak dengan mantap. Tubuh bertumpu pada kedua kaki yang membuka dengan tidak terlalu lebar, namun juga tidak terlalu sempit. Kedua tangan menggantung rileks di kiri dan kanan tubuh Anda, siap untuk digunakan ketika Anda hendak memberi penekanan tertentu pada materi presentasi. Dada dan kepala tegak dengan meyakinkan, namun tidak menunjukkan kesombongan.

Gunakan gerakan tangan (gesture) yang sesuai

Jika Anda memperhatikan para presenter hebat, mereka memanfaatkan anggota tubuhnya untuk ikut berbicara. Ketika ingin menjelaskan sesuatu yang sangat besar, mereka memberi simbol lingkaran yang besar dengan tangannya. Ketika menunjukkan sebuah kemajuan dan pertumbuhan, mereka menggerakkan tangan dari bawah ke atas. Itulah beberapa gesture yang dapat Anda pelajari untuk memberi efek lebih kuat lagi pada presentasi Anda.
Bayangkan ketika Anda memiliki slide yang visual, suara yang mantap, dan gesture tubuh untuk memberi penekanan. Akan sangat mudah bagi Anda untuk membuat audiens tetap berkonsentrasi pada materi presentasi dan mengingatnya. Gesture, disamping slide dan kata-kata yang diucapkan, akan membuat presentasi Anda memiliki kekuatan tambahan.

Tersenyum

Senyum yang tulus dan wajar memberi kekuatan pada presentasi Anda. Tersenyumlah secara natural, jangan memaksakan. Senyum seperti rasa percaya diri. Ia akan menyebar kepada audiens Anda.
Gesture yang mengiringi kata-kata, penekanan nada suara maupun slide, akan menambah kekuatan message yang ingin disampaikan.”
—Muhammad Noer



http://www.presentasi.net/

Kamis, 03 Januari 2013

Contoh presentasi : Tips Presentasi 10-20-30 Ala Guy Kawasaki Untuk Menyampaikan Ide Bisnis Anda


guy-kawasaki

Tips Presentasi 10-20-30 Ala Guy Kawasaki Untuk Menyampaikan Ide Bisnis Anda

Bayangkan jika Anda adalah seorang entrepreneur yang akan menampilkan presentasi di hadapan calon pemodal.
  • Bagaimana Anda akan menyampaikan presentasi di hadapan mereka?
  • Berapa banyak slide yang harus ditampilkan?
  • Berapa lama sebaiknya waktu yang Anda butuhkan untuk menjelaskan keseluruhan presentasi?
  • Materi seperti apa yang sebaiknya ditampilkan?
Guy Kawasaki, seorang venture capital sukses memberikan tips yang menarik. Menurutnya sebuah presentasi yang ditujukan kepada investor haruslah menggunakan kaidah 10-20-30.

Memahami Kaidah 10-20-30

Apa itu kaidah 10-20-30? Mari kita lihat satu per satu.
10 – menunjukkan jumlah slide.
Seorang venture capital tidak perlu melihat banyak slide. Anda harus mampu merangkum keseluruhan ide bisnis dalam 10 slide saja. Dengan demikian presentasi Anda akan ringkas, padat dan fokus pada permasalahan. Inti persoalan yang ingin dijawab oleh seorang venture capital adalah apa yang membuat ide Anda layak mendapatkan dukungan dana dari mereka.
20 – menunjukkan waktu 20 menit untuk menyampaikannya.
Misalkan Anda diberi kesempatan selama 1 jam, maka gunakan 20 menit untuk presentasi dan sisanya untuk tanya jawab. Jika Anda menyampaikan presentasi terlalu lama, bisa jadi ada banyak pertanyaan yang tidak sempat dibahas. Sementara para venture capital adalah orang yang sibuk dan tidak akan menambah waktu yang sudah disiapkan sebelumnya.
30 – menunjukkan ukuran minimal font 30 point.
Dengan ukuran font seperti ini, maka tulisan yang tampil di slide Anda cukup besar untuk dilihat oleh seluruh audiens. Semua orang dapat dengan mudah membacanya. Dan karena Anda menggunakan ukuran font yang besar, maka jumlah teks yang tampil mau tidak mau harus sedikit. Anda dipaksa untuk meringkas kata kunci apa yang ingin dituliskan dan menjadi ide utama dari setiap slide.
Itulah aturan 10-20-30 yang ditawarkan oleh Guy Kawasaki.
Anda boleh menyukainya, boleh juga tidak.

Apa Alasan Dibalik Kaidah 10-20-30?

Jika Anda bertanya kepada saya pribadi, maka prinsip 10-20-30 sebenarnya bertujuan baik.
Jumlah 10 slide adalah angka yang tidak banyak namun juga tidak terlalu sedikit. Jumlah 10 slide seharusnya cukup untuk menyajikan keseluruhan ide Anda. Walaupun demikian, setiap presentasi tentunya unik dan kadang membutuhkan pendekatan dan jumlah slide yang unik pula. Ada kalanya Anda perlu jumlah slide yang lebih banyak dan ada kalanya Anda bahkan tidak membutuhkan satu slide pun.
Durasi 20 menit juga memiliki alasan tersendiri. Audiens yang mendengarkan presentasi akan mulai menunjukkan tanda-tanda kejenuhan pada menit ke 10. Dengan membuat durasi presentasi yang singkat hanya 20 menit saja, maka motivasi audiens dalam mendengarkan presentasi secara seksama dapat dipertahankan. Sebelum mereka terlalu jenuh, presentasi Anda sudah berakhir dan bisa dilanjutkan dengan tanya jawab jika diperlukan.
Jika Anda perhatikan, panduan presentasi di TED yang menampilkan para pembicara hebat dirancang dalam durasi 18 menit saja. Dengan demikian setiap pembicara harus dapat meringkas topik yang mereka bawakan secara padat dalam waktu yang terbatas tersebut.
Ukuran font 30 point secara umum nyaman dilihat dalam presentasi. Ini akan membuat teks yang Anda tampilkan terlihat cukup jelas. Jika menggunakan bullet point standar, maka ukuran 30 point ini akan memaksa Anda hanya bisa menuliskan 5-7 baris saja. Dengan demikian, tidak akan ada teks yang terlalu kecil sehingga sulit dibaca.

Perlukah Mengikuti Kaidah 10-20-30?

Jawabnya perlu jika Anda menampilkan presentasi yang singkat dan sesuai dengan audiens yang hadir. Seperti yang disampaikan Guy Kawasaki, presentasi jenis ini cocok ditampilkan di hadapan para venture capital yang sehari-hari mendengarkan demikian banyak proposal bisnis.
Namun jika presentasi Anda bersifat unik maka jawabnya tidak perlu. Cukup memahami esensi di balik aturan 10-20-30 itu yakni, gunakan jumlah slide secara bijak, sesuai keperluan. Atur waktu pembicaraan yang ringkas dan padat. Hindari presentasi yang terlalu panjang yang bisa membuat audiens merasa bosan. Dan gunakan ukuran teks yang nyaman sekaligus mudah dilihat oleh seluruh audiens, terutama yang duduk paling belakang.
Selamat memberikan presentasi.



http://www.presentasi.net/

Contoh Bahan Presentasi

Promo

PhotobucketPhotobucketPhotobucket

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | Best Buy Printable Coupons